Teruntuk, Tuanku.
Maaf, sampai detik aku menulis ini yang entah akan kau baca atau tidak, aku masih belum bisa betul-betul menerima keberadaanmu. Mungkin karena luka dimasa laluku. Aku masih terjebak dengan dilema yang seharusnya harus kusudahi sejak lama. Ternyata aku salah, aku pikir membuka hati untuk pria yang lalu itu pilihan tepat hanya karna dia sudah banyak hadir dimasa aku tidak pernah berani bermimpi, tidak pernah berani untuk melangkah sesuai hati. Maaf, kalau usahamu jadi lebih berat daripada pria yang meninggalkanku tanpa dosa waktu itu. Untuk membuatku kembali percaya bahwa tidak semua pertemuan berakhir buruk. Walau kau tidak ada dimasa itu, tapi aku yakin akan dimana datang waktu akan lebih terasa menyenangkan bila ada yang benar-benar dipelupuk mata tiap pagi, tiap harapan baru muncul, ada jemari yang menghapus air mata diam-diam ini, ada bahu yang siap disandarkan. Tidak hanya melalui pesan-pesan singkat. Ada suara yang membisik halus tiap kali aku gugup, akan ada y...