Teruntuk, Tuanku.


Maaf, sampai detik aku menulis ini yang entah akan kau baca atau tidak, aku masih belum bisa betul-betul menerima keberadaanmu. Mungkin karena luka dimasa laluku. Aku masih terjebak dengan dilema yang seharusnya harus  kusudahi sejak lama. Ternyata aku salah, aku pikir membuka hati untuk pria yang lalu itu pilihan tepat hanya karna dia sudah banyak hadir dimasa aku tidak pernah berani bermimpi, tidak pernah berani untuk melangkah sesuai hati. 

Maaf, kalau usahamu jadi lebih berat daripada pria yang meninggalkanku tanpa dosa waktu itu. Untuk membuatku kembali percaya bahwa tidak semua pertemuan berakhir buruk. Walau kau tidak ada dimasa itu, tapi aku yakin akan dimana datang waktu akan lebih terasa menyenangkan bila ada yang benar-benar dipelupuk mata tiap pagi, tiap harapan baru muncul, ada jemari yang menghapus air mata diam-diam ini, ada bahu yang siap disandarkan. Tidak hanya melalui pesan-pesan singkat. Ada suara yang membisik halus tiap kali aku gugup, akan ada yang aku ajak berdebat hal-hal sepele dan ada yang membalas amarahku dengan kalimat penenang.  

Tidak, pria yang lalu tidak begitu banyak berbuat apa-apa. Dia masih dalam koridor aman, masih takut mengambil peran kau seutuhnya. Culun ya? Iyasih, aku juga pikir begitu. Makanya aku berani untuk memilihmu sebagai teman hidup, karena aku yakin aku lebih kuat melawan badai didepan bersamamu, bukan bersamanya. 

Terimakasih sudah mau memilihku dari ribuan wanita baik,cantik dan sholehah diluar sana. Maaf, aku masih belum bisa masak makanan favoritmu, izinkan aku belajar banyak tentang dirimu, tentang bagaimana mengatur jadwal mencuci bajumu, menonton acara tv favoritmu dan mencintai hobimu yang mungkin harus ku maklumi. 

Kita sama-sama punya masa lalu, aku tidak hidup di masa lalumu begitpun kau. Jadi, aku berterimakasih dengan banyak wanita yang lebih dulu bertemu denganmu, karena sudah membuat dirimu menjadi seperti ini sekarang. Terimakasih sudah mau singgah dan menetap. Ruang perbincangan ini sudah mulai aku benahi, semoga kau betah didalamnya. Mari mengeja rasa tak bernama itu.    

Comments

Popular Posts